Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Rabu, 18 Mei 2016

EKSEKUSI pertama setelah libur panjang

Share
Ketua Umum HMI cab. Ciputat, Dani Ramdani 
sedang membacakan puisi di depan penonton EKSEKUSI

Alhamdulillah puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang memberi kesempatan, atau kuasa ke pada kami untuk tetap konsisten dalam mengadakan kegiatan mahasiswa Islam yang biasa diselenggerakan pada setiap tanggal 15, atau lebih tepatnya disebut EKSEKUSI, yaitu Ekspresi Seni dan Diskusi. Tidak lupa pula shalawat dan salam saya ucapkan kepada Kanda Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia dengan segala rintangannya.
Terima kasih juga kepada Kanda Dani Ramdhany, ketua umum HMI cabang Ciputat, beserta seluruh perngurus cabang yang sudah memfasilitasi tempat kepada LSMI untuk menyelenggarakan acara di Aula Insan Cita (AIC), terlebih khusus kepada Kanda Ali Wafa sebagai ketua Pengelola Aset Cabang (PAC). Tidak lupa pula kepada Bang Zaeni, Bang Slash, Bang Fatur, Bang Niam, Bang Agus dan kawan-kawan LSMI yang telah membantu kami atas terlaksananya kegiatan rutin setiap tanggal 15 ini, EKSEKUSI.
Apa itu EKSEKUSI?
Sekilas ketika mendengar kata eksekusi, mungkin yang terbesit di dalam pikiran kawan-kawan adalah puncak dari gagasan suatu acara, atau melakukan apa-apa yang sudah digagas sebelumnya. Untuk lebih jelasnya, kita sering mengatakan kepada teman kita bahwa “acaranya tinggal dieksekusi”, yang berarti hanya menunggu dilaksanakan saja.
Namun eksekusi yang dimaksud di sini bukanlah eksekusi sebagaimana yang dimaksud di atas. EKSEKUSI yang dimaksud di sini adalah singkatan dari Ekspresi Seni dan Diskusi. Sebuah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) setiap bulannya, lebih tepatnya setiap tanggal 15. Awal mula adanya gagasan EKSEKUSI adalah untuk menyatukan semua komisariat yang terhimpun dalam Himpunan Mahasiswa Islam cabang Ciputat. Oleh karena itu, pada dasarya EKSEKUSI adalah acara yang diselenggarakan oleh pengurus cabang. Namun karena acara tersebut berorientasikan seni, maka semua perlengkapan dan konsep diamanahkan kepada LSMI, sebuah lembaga yang memang memiliki pengetahuan lebih tentang seni.
Selarik Kata-prakata
Sebenarnya aku tidak tahu apa nama tulisan yang akan ku tulis, entah koreksi atau berbentuk review. Akan tetapi tilisan ini lahir dari apa yang kulihat, kurasa dan apa yang terjadi hampir di setiap EKSEKUSI diselenggarakan. Berikut isinya.
Kelebihan dan Kekurangan Sistem Kepanitiaan “Bersama”
Bagiku EKSEKUSI kali ini adalah EKSEKUSI yang spesial di antara EKSEKUSI yang lainnya. Karena pada EKSEKUSI kali ini aku dijadikan sebagai ketua orgnaizing comite (OC). Ketua OC, begitu biasa disebut, adalah orang yang bertanggung jawab atas lajunya sebuah acara. Biasanya OC yang terpilih adalah orang yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi dan berpengalaman dalam memimpin. Seorang OC harus bisa mengakomodir setiap divisi dalam sebuah acara. Dari kriteria-kriteria di atas, aku rasa, tidak satupun yang melekat dalam diriku. Makanya, menjadi ketua OC adalah sebuah pengalaman yang baru bagiku, ditambah lagi EKSEKUSI selalu diadakan dengan panitia seadanya.
Di sini SK kepanitiaan hanya sebatas formalitas saja, untuk penggeraknya, kami melakukannya bersama, hal ini menurutku menjadi kelebihan sekaligus kekurangan di acara EKSEKUSI yang kami adakan tadi malam dan pada EKSEKUSI-EKSEKUSI lainnya.
Dalam sebuah acara yang hanya dimotori oleh beberapa orang panitia saja, memang  seharusnya SK dijadikan sebagai formalitas saja, seorang panitia seharusnya membantu teman panitia di divisi yang lain. Sehingga tidak ada yang merasa terbebani karena dia berada di divisi yang berat, seperti divisi pubdekdok dan acara. Namun kurangnya adalah, sistem seperti ini cenderung menghilangkan rasa tanggungjawab penuh bagi setiap panitia terhadap divisinya yang sebenarnya. Dengan sistem ini, panitia akan menganggap bahwa tugas yang seharusnya menjadi tugasnya menjadi tugas bersama. Pada akhirnya akan berpegaruh kepada acara yang digarap itu sendiri. Untuk itu, kesadaran akan kewajiban pada tugas dan kepekeaan kepada teman adalah solusi yang paling efektif untuk mengatasi keterbatasan panitia. Sehingga pada batasan-batasan tertentu panitia harus kembali kepada tugas yang diamanahkan kepadanya.
Sistem Penampilan di Setiap EKSEKUSI
Salah satu yang menarik dari acara EKSEKUSI adalah sistem penampilannya yang selalu dibuat beberapa jam sebelum acara dimulai, bahkan sering hanya beberapa saat sebelum acara dimulai. Entah ini sudah menjadi tradisi yang sudah ada sejak EKSEKUSI pertama kali diselenggarakan atau hanya hanya terjadi pada angkatanku saja. Aku tidak tau pastinya seperti apa, tapi yang aku tangkap dari kebiasaan ini adalah EKSEKUSI belum mampu membuat sebuah rundown acara yang teratur dan benar-benar sistematis; Sehingga mengakibatkan bentuk acara yang tidak pasti, seperti terlalu banyak penampilan atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan oleh bentuk acara EKSEKUSI itu sendiri yang bersifat semi-formal. Bahkan terkesan non formal.
 Meskipun begitu, di setiap kejelekan pasti ada tersimpan kebaikan di dalamnya. Hal itu juga yang aku tangkap dari kebiasaan yang ku sebut di atas. Memang kalau dilihat dari caranya, sistem di atas akan menyulitkan panitia untuk mengatur dan menjaga kestabilan waktu. Akan tetapi, dengan sistem yang berlaku di atas, secara tidak langsung akan melatih panitia untuk bergerak cepat dalam mengambil keputusan, di samping itu, cara di atas akan menghilangkan tekanan yang biasa menjadi problem bagi si penampil, yang memang menjadi tujuan utama diselenggarakan acara EKSEKUSI, yaitu mengeksperesikan seni tanpa ada tekanan bathin, relax, dan bisa menghilangkan kegundahan di hati.
Mengenai hal ini, aku sendiri bingung untuk merubah dengan sistem baru atau membiarkannya. Karena tidak selamanya perubahan bisa mendatangkan hal yang lebih baik jikalau tidak dikonsep dengan matang.
Corak Penampilan di Setiap EKSEKUSI
Selain pada masalah-masalah teknis, aku juga melihat ada kecenderungan cabang seni yang kerap ditampilakan di setiap EKSEKUSI. Mungkin ada kaitannya dengan penampil yang hampir didominasi dari Komisariat Usuluddin, dimana fakultas Usuluddin dikenal sebagai fakultas para pemikir dan penghayal. Maka aku berasumsi bahwa hal tersebut berdampak kepada penampilan seni di acara EKSEKUSI, yaitu seni puisi, seni yang paling sering digunakan oleh para filusuf era pertengahan dan renaisance. Bayangkan saja, dari delapan penampilan tadi malam, hanya ada dua penampilan saja yang menampilkan seni lagu.     Aku sendiri tidak menjadikan hal ini sebuah masalah yang urgen, selagi minat seni setiap orang/kader di komisariat tetap terjaga, baik itu seni puisi atau seni lainnya, aku akan tetap mendukung dan akan tetap menjaga konsistensi EKSEKUSI sebagai wadah yang siap menampungi minat seni orang banyak, khususnya kepada mahasiswa yang terhimpun dalan organisasi HMI Cabang Ciputat. Namun, kecenderungan seperti itu kerap menjadi masalah ketika berbenturan dengan orang yang ingan menampilakan seni yang berbeda seperti lagu dan tari. Dalam artian bahwa orang yang akan tampil tersebut minder nampil didepan komisariat lain.
Mungkin cukup sekian kata-prakata yang bisa ku ungkapkan dalam tulisan ini. Aku harap, kedepannya LSMI bisa mengatasi beberapa masalah yang aku ajukan di atas, sehingga pada akhirnya bisa membuka kreasi dan ekspresi seni seluruh kader Ciputat amin
Untuk selebihnya, aku haturkan maaf kepada siapa saja yang membaca tulisan ini dan mohon bimbingannya.
Salam seni Ciputat.


Baymer
16 September 2015

0 komentar:

Posting Komentar