Ketua Umum HMI cab. Ciputat, Dani Ramdani
sedang membacakan puisi di depan penonton EKSEKUSI
Alhamdulillah
puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang memberi kesempatan, atau
kuasa ke pada kami untuk tetap konsisten dalam mengadakan kegiatan mahasiswa
Islam yang biasa diselenggerakan pada setiap tanggal 15, atau lebih tepatnya
disebut EKSEKUSI, yaitu Ekspresi Seni dan Diskusi. Tidak lupa pula shalawat dan
salam saya ucapkan kepada Kanda Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah
Islam kepada umat manusia dengan segala rintangannya.
Terima
kasih juga kepada Kanda Dani Ramdhany, ketua umum HMI cabang Ciputat, beserta
seluruh perngurus cabang yang sudah memfasilitasi tempat kepada LSMI untuk
menyelenggarakan acara di Aula Insan Cita (AIC), terlebih khusus kepada Kanda
Ali Wafa sebagai ketua Pengelola Aset Cabang (PAC). Tidak lupa pula kepada Bang
Zaeni, Bang Slash, Bang Fatur, Bang Niam, Bang Agus dan kawan-kawan LSMI yang
telah membantu kami atas terlaksananya kegiatan rutin setiap tanggal 15 ini,
EKSEKUSI.
Apa itu EKSEKUSI?
Sekilas
ketika mendengar kata eksekusi, mungkin yang terbesit di dalam pikiran
kawan-kawan adalah puncak dari gagasan suatu acara, atau melakukan apa-apa yang
sudah digagas sebelumnya. Untuk lebih jelasnya, kita sering mengatakan kepada
teman kita bahwa “acaranya tinggal dieksekusi”, yang berarti hanya menunggu
dilaksanakan saja.
Namun
eksekusi yang dimaksud di sini bukanlah eksekusi sebagaimana yang dimaksud di
atas. EKSEKUSI yang dimaksud di sini adalah singkatan dari Ekspresi Seni dan
Diskusi. Sebuah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Mahasiswa
Islam (LSMI) setiap bulannya, lebih tepatnya setiap tanggal 15. Awal mula
adanya gagasan EKSEKUSI adalah untuk menyatukan semua komisariat yang terhimpun
dalam Himpunan Mahasiswa Islam cabang Ciputat. Oleh karena itu, pada dasarya
EKSEKUSI adalah acara yang diselenggarakan oleh pengurus cabang. Namun karena
acara tersebut berorientasikan seni, maka semua perlengkapan dan konsep
diamanahkan kepada LSMI, sebuah lembaga yang memang memiliki pengetahuan lebih
tentang seni.
Selarik Kata-prakata
Sebenarnya
aku tidak tahu apa nama tulisan yang akan ku tulis, entah koreksi atau
berbentuk review. Akan tetapi tilisan ini lahir dari apa yang kulihat, kurasa
dan apa yang terjadi hampir di setiap EKSEKUSI diselenggarakan. Berikut isinya.
Kelebihan dan
Kekurangan Sistem Kepanitiaan “Bersama”
Bagiku
EKSEKUSI kali ini adalah EKSEKUSI yang spesial di antara EKSEKUSI yang lainnya.
Karena pada EKSEKUSI kali ini aku dijadikan sebagai ketua orgnaizing comite
(OC). Ketua OC, begitu biasa disebut, adalah orang yang bertanggung jawab atas
lajunya sebuah acara. Biasanya OC yang terpilih adalah orang yang mempunyai
jiwa kepemimpinan yang tinggi dan berpengalaman dalam memimpin. Seorang OC
harus bisa mengakomodir setiap divisi dalam sebuah acara. Dari kriteria-kriteria
di atas, aku rasa, tidak satupun yang melekat dalam diriku. Makanya, menjadi
ketua OC adalah sebuah pengalaman yang baru bagiku, ditambah lagi EKSEKUSI
selalu diadakan dengan panitia seadanya.
Di sini
SK kepanitiaan hanya sebatas formalitas saja, untuk penggeraknya, kami
melakukannya bersama, hal ini menurutku menjadi kelebihan sekaligus kekurangan
di acara EKSEKUSI yang kami adakan tadi malam dan pada EKSEKUSI-EKSEKUSI
lainnya.
Dalam
sebuah acara yang hanya dimotori oleh beberapa orang panitia saja, memang seharusnya SK dijadikan sebagai formalitas
saja, seorang panitia seharusnya membantu teman panitia di divisi yang lain.
Sehingga tidak ada yang merasa terbebani karena dia berada di divisi yang berat,
seperti divisi pubdekdok dan acara. Namun kurangnya adalah, sistem seperti ini
cenderung menghilangkan rasa tanggungjawab penuh bagi setiap panitia terhadap
divisinya yang sebenarnya. Dengan sistem ini, panitia akan menganggap bahwa
tugas yang seharusnya menjadi tugasnya menjadi tugas bersama. Pada akhirnya
akan berpegaruh kepada acara yang digarap itu sendiri. Untuk itu, kesadaran
akan kewajiban pada tugas dan kepekeaan kepada teman adalah solusi yang paling
efektif untuk mengatasi keterbatasan panitia. Sehingga pada batasan-batasan
tertentu panitia harus kembali kepada tugas yang diamanahkan kepadanya.
Sistem Penampilan di
Setiap EKSEKUSI
Salah
satu yang menarik dari acara EKSEKUSI adalah sistem penampilannya yang selalu
dibuat beberapa jam sebelum acara dimulai, bahkan sering hanya beberapa saat
sebelum acara dimulai. Entah ini sudah menjadi tradisi yang sudah ada sejak
EKSEKUSI pertama kali diselenggarakan atau hanya hanya terjadi pada angkatanku
saja. Aku tidak tau pastinya seperti apa, tapi yang aku tangkap dari kebiasaan
ini adalah EKSEKUSI belum mampu membuat sebuah rundown acara yang teratur dan
benar-benar sistematis; Sehingga mengakibatkan bentuk acara yang tidak pasti,
seperti terlalu banyak penampilan atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan oleh
bentuk acara EKSEKUSI itu sendiri yang bersifat semi-formal. Bahkan terkesan
non formal.
Meskipun begitu, di setiap kejelekan pasti ada
tersimpan kebaikan di dalamnya. Hal itu juga yang aku tangkap dari kebiasaan
yang ku sebut di atas. Memang kalau dilihat dari caranya, sistem di atas akan
menyulitkan panitia untuk mengatur dan menjaga kestabilan waktu. Akan tetapi,
dengan sistem yang berlaku di atas, secara tidak langsung akan melatih panitia
untuk bergerak cepat dalam mengambil keputusan, di samping itu, cara di atas
akan menghilangkan tekanan yang biasa menjadi problem bagi si penampil, yang
memang menjadi tujuan utama diselenggarakan acara EKSEKUSI, yaitu
mengeksperesikan seni tanpa ada tekanan bathin, relax, dan bisa menghilangkan
kegundahan di hati.
Mengenai
hal ini, aku sendiri bingung untuk merubah dengan sistem baru atau
membiarkannya. Karena tidak selamanya perubahan bisa mendatangkan hal yang
lebih baik jikalau tidak dikonsep dengan matang.
Corak Penampilan di
Setiap EKSEKUSI
Selain
pada masalah-masalah teknis, aku juga melihat ada kecenderungan cabang seni
yang kerap ditampilakan di setiap EKSEKUSI. Mungkin ada kaitannya dengan
penampil yang hampir didominasi dari Komisariat Usuluddin, dimana fakultas
Usuluddin dikenal sebagai fakultas para pemikir dan penghayal. Maka aku
berasumsi bahwa hal tersebut berdampak kepada penampilan seni di acara
EKSEKUSI, yaitu seni puisi, seni yang paling sering digunakan oleh para filusuf
era pertengahan dan renaisance. Bayangkan saja, dari delapan penampilan tadi
malam, hanya ada dua penampilan saja yang menampilkan seni lagu. Aku sendiri tidak menjadikan hal ini sebuah
masalah yang urgen, selagi minat seni setiap orang/kader di komisariat
tetap terjaga, baik itu seni puisi atau seni lainnya, aku akan tetap mendukung
dan akan tetap menjaga konsistensi EKSEKUSI sebagai wadah yang siap menampungi
minat seni orang banyak, khususnya kepada mahasiswa yang terhimpun dalan
organisasi HMI Cabang Ciputat. Namun, kecenderungan seperti itu kerap menjadi
masalah ketika berbenturan dengan orang yang ingan menampilakan seni yang
berbeda seperti lagu dan tari. Dalam artian bahwa orang yang akan tampil
tersebut minder nampil didepan komisariat lain.
Mungkin
cukup sekian kata-prakata yang bisa ku ungkapkan dalam tulisan ini. Aku harap,
kedepannya LSMI bisa mengatasi beberapa masalah yang aku ajukan di atas,
sehingga pada akhirnya bisa membuka kreasi dan ekspresi seni seluruh kader
Ciputat amin
Untuk
selebihnya, aku haturkan maaf kepada siapa saja yang membaca tulisan ini dan
mohon bimbingannya.
Salam seni Ciputat.
Baymer
16 September 2015
0 komentar:
Posting Komentar