Sekawanan domba tengah bercengkerama di tegah padang rumput. Satu ekor domba bercerita, ia
mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang melambung. Ia keteteran dengan keadaan itu. Domba
yang persis di sebelahnya balas menyahut. Ia bercerita tentang kehidupannya yang memprihatinkan.
Ia mengutuki tingkah penguasa. Dulu, penguasa pernah datang ke tempatnya. Tapi ternyata itu
hanya langkah pencitraan saja. Sampai saat ini kehidupannya masih memprihatinkan.
Domba lainnya lagi turut menimpali. Ia bercerita tentang kesusahan yang dialami keluarganya.
Kesedihan itu bermula dari tindakan aparat yang semena-mena. Ia dan keluarganya tidak bisa
berbuat apa-apa. Ia memaki kondisi hukum di negara ini. Rakyat sepertinya tidak mampu berbuat.
Hukum selalu memenangkan penguasa dan aparatnya.
Kawanan domba itu dikejutkan dengan lolongan serigala, mereka lengah sehingga sekawanan
serigala telah mengepungnya. Para domba tidak bisa berkutik lagi. Mereka pun hanya bisa pasrah.
Mereka sangat paham apa yang diinginkan kawanan serigala ini. Serigala memerah susu domba,
memangkas bulu-bulunya sehingga kuruslah domba-domba itu. Sebagian dari domba bahkan
dipaksa melayani nafsu bejat serigala.
Sore itu, domba-domba pucat tak berdaya. Tubuh mereka kurus, tak berbulu, tertindas. Mereka
termenung. Mereka menghayalkan sosok pembela, yang dapat memperjuangkan hak mereka. Saat
itulah datang singa besar. Ia berjalan dengan langkah yang berwibawa. Di belakangnya turut
menyertainya singa-singa muda seakan menjadi pengawalnya. Singa besar duduk dihadapan para
domba. Dengan lembut ia menyapa dan bertanya kepada para domba. Singa besar itu lapar, namun
ia berusaha menutupinya sembari mendengarkan keluhan domba. Ia pun berusaha menenangkan
para domba. Ia menghibur mereka dengan berjanji akan menjadi pembela mereka. Ia pun bercerita
tentang pengalamannya membela rakyat. Karangan cerita singa besar itu sangat menghibur bagi
domba, hingga para domba itu tertidur. Akhirnya satu per satu domba-domba itu dimakan oleh
singa besar dan pengawalnya.
Singa besar itu pun mengaum dengan kerasnya. Ia bangga. Ia merasa dirinya sangat kuat dan hebat.
Tak jauh dari padang rumput, seekor buaya besar terganggu dengan auman singa besar tadi. Ia pun
memanggil kawan-kawannya untuk memberi pelajaran pada singa besar itu. Tak lama kemudian
terjadilah pertarungan antara buaya dan singa. Jelas keduanya memperebutkan wilayah. Beberapa
kali singa menyerang buaya, namun gagal total. Kulit buaya besar tadi tidak mampu ditembus
serangan buaya. Melihat singa yang tengah heran dan lengah, buaya pun menyerang singa dan
membabi buta. Singa besar itu kewalahan. Ia tak berdaya menghadapi serangan dari buaya itu.
Buaya besar menghentikan serangannya. Ia berkata kepada singa besar itu agar tidak bertingkah.
Sok berkuasa. Wilayahnya ada di bawah kekuasaannya. Singa besar itu hanya mengangguk singkat
dan langsung kabur. Ia tak mau lagi mengaum sembarangan.
mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang melambung. Ia keteteran dengan keadaan itu. Domba
yang persis di sebelahnya balas menyahut. Ia bercerita tentang kehidupannya yang memprihatinkan.
Ia mengutuki tingkah penguasa. Dulu, penguasa pernah datang ke tempatnya. Tapi ternyata itu
hanya langkah pencitraan saja. Sampai saat ini kehidupannya masih memprihatinkan.
Domba lainnya lagi turut menimpali. Ia bercerita tentang kesusahan yang dialami keluarganya.
Kesedihan itu bermula dari tindakan aparat yang semena-mena. Ia dan keluarganya tidak bisa
berbuat apa-apa. Ia memaki kondisi hukum di negara ini. Rakyat sepertinya tidak mampu berbuat.
Hukum selalu memenangkan penguasa dan aparatnya.
Kawanan domba itu dikejutkan dengan lolongan serigala, mereka lengah sehingga sekawanan
serigala telah mengepungnya. Para domba tidak bisa berkutik lagi. Mereka pun hanya bisa pasrah.
Mereka sangat paham apa yang diinginkan kawanan serigala ini. Serigala memerah susu domba,
memangkas bulu-bulunya sehingga kuruslah domba-domba itu. Sebagian dari domba bahkan
dipaksa melayani nafsu bejat serigala.
Sore itu, domba-domba pucat tak berdaya. Tubuh mereka kurus, tak berbulu, tertindas. Mereka
termenung. Mereka menghayalkan sosok pembela, yang dapat memperjuangkan hak mereka. Saat
itulah datang singa besar. Ia berjalan dengan langkah yang berwibawa. Di belakangnya turut
menyertainya singa-singa muda seakan menjadi pengawalnya. Singa besar duduk dihadapan para
domba. Dengan lembut ia menyapa dan bertanya kepada para domba. Singa besar itu lapar, namun
ia berusaha menutupinya sembari mendengarkan keluhan domba. Ia pun berusaha menenangkan
para domba. Ia menghibur mereka dengan berjanji akan menjadi pembela mereka. Ia pun bercerita
tentang pengalamannya membela rakyat. Karangan cerita singa besar itu sangat menghibur bagi
domba, hingga para domba itu tertidur. Akhirnya satu per satu domba-domba itu dimakan oleh
singa besar dan pengawalnya.
Singa besar itu pun mengaum dengan kerasnya. Ia bangga. Ia merasa dirinya sangat kuat dan hebat.
Tak jauh dari padang rumput, seekor buaya besar terganggu dengan auman singa besar tadi. Ia pun
memanggil kawan-kawannya untuk memberi pelajaran pada singa besar itu. Tak lama kemudian
terjadilah pertarungan antara buaya dan singa. Jelas keduanya memperebutkan wilayah. Beberapa
kali singa menyerang buaya, namun gagal total. Kulit buaya besar tadi tidak mampu ditembus
serangan buaya. Melihat singa yang tengah heran dan lengah, buaya pun menyerang singa dan
membabi buta. Singa besar itu kewalahan. Ia tak berdaya menghadapi serangan dari buaya itu.
Buaya besar menghentikan serangannya. Ia berkata kepada singa besar itu agar tidak bertingkah.
Sok berkuasa. Wilayahnya ada di bawah kekuasaannya. Singa besar itu hanya mengangguk singkat
dan langsung kabur. Ia tak mau lagi mengaum sembarangan.
0 komentar:
Posting Komentar